Fenomena Peserta 'UNTUL' Warnai Pengisian Perangkat Desa di Kabupaten Kediri

- 19 Mei 2024, 12:35 WIB
Foto.  Selzha Fani (Kiri) dan Dian Rianta (kanan) anggota FPUPPD Kabupaten Kediri
Foto. Selzha Fani (Kiri) dan Dian Rianta (kanan) anggota FPUPPD Kabupaten Kediri /

 

OKE FLORES.COM – Selzha Fani salah satu anggota Forum Peserta Ujian Penyaringan Perangkat Desa (FPUPPD) Kabupaten Kediri mengatakan kepada media ini, bahwa mencuatnya kasus dugaan tindak pidana korupsi pengisian perangkat desa sudah terasa ‘janggal’ sejak saat pelaksanaan ujian pada tanggal 27 Desember 2023.

Dikatakan, “Saat itu nilai saya tidak keluar semua, baik CAT maupun nilai praktek komputer, padahal hampir sebagian besar soal saya bisa menjawabnya. Memang ada soal yang tidak ada jawabannya. Ini membingungkan karena tidak ada pemberitahuan kalau dijawab salah apakah nilai berkurang atau sebaliknya.”

Ia menambahkan, “Selain itu loadingnya komputer lama, saat komplain kepada panitia malah diacuhkan. Jadi saya kesulitan dalam ujian yang cukup bergengsi ini. Padahal semestinya profesional, tetapi yang saya rasakan kemarin itu, panitia seharusnya tidak boleh acuh tapi harus sigap.’ Peserta ujian asal Desa Ngadi – Kecamatan Mojo ini memilih formasi KASI Pelayanan, “Yang memilih formasi itu ada 4 orang. Salah satu teman juga merasakan hal yang sama karena duduk berdekatan sedangkan 2 lainnya duduk berjauhan. Saat itu kursi juga tidak diberi nama atau nomor alias bebas, saya pikir seperti ujian nasional,” ujarnya.

Baca Juga: PB PMII Gelar Diskusi Lingkungan dan Penanaman Mangrove di Serang - Banten

Kepada wartawan, Selzha mengaku mengetahui hasil nilainya pada keesokan hari melalui WA berisi foto nilai yang tertera di kertas yang terlihat buram. “Dan foto itu masih saya simpan, saya tidak memiliki salinan berita acara resmi termasuk lampiran nilai. Tapi katanya di kantor desa ditempel tapi saya tidak sempat lihat, oh iya sekitar jam 10 pagi saya dapat juga kiriman Pdf berisi lampiran nilai yang juga terlihat buram serta tidak ada kop dan tidak tanda tangan dari UNISMA, “bebernya. “Kabarnya sih yang lolos jadi perangkat pada formasi saya, masih kerabat dari salah satu perangkat desa, “timpal Selzha.

Fakta lain juga disampaikan Dian Rianta yang juga anggota FPUPPD asal Desa Maesan – Kecamatan Mojo. “Soal ujian yang keluar itu sama persis dengan modul yang saya beli dari internet seharga 200 ribu hanya dirubah nama desa, kecamatan dan kota. Saat itu nilai CAT dan nilai ujian komputer juga tidak keluar semua. Hasil ujian komputer saat itu ada permintaan panitia dimasukan ke flashdisk yang diberikannya, akhirnya lembar jawaban saya, teman saya dan perangkat desa yang terpilih disimpan satu flashdisk,” ucapnya.

Dian menegaskan bahwa ada temannya yang sama sekali mengaku tidak mengerjakan soal ujian praktek komputer namun tetap keluar nilainya. “Teman saya itu mengaku kepada saya tidak mengerjakan soal tetapi nilai keluar. Mirisnya nilainya justru mengungguli saya,” ungkapnya.

“Saat pelaksanaan tes pun saya banyak protes terkait soal yang nggak ada jawaban, selain itu jawabannya bisa berubah sendiri. Sebagai contoh saya milih A tiba-tiba berubah jadi C. Saya komplain ke panitia namun tidak ada yang merespon,” sambungnya.

Foto. Kantor Desa Maesan - Kecamatan Mojo
Foto. Kantor Desa Maesan - Kecamatan Mojo

Halaman:

Editor: Adrianus T. Jaya


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah